Hari ini adalah hari ketiga saya ke RS M. Jamil padang. Sekitar jam 08.00 saya sudah tiba disini.
Prosedur utk berkunjung hari ini lebih ketat daripada kemarin. Saya harus melalui 2 kali pemeriksaan sebelum sampai ke ruang Instalasi Diagnostik Terpadu ( IDT ). 
Disini saya akan melakukan tindakan Endeskopi, untuk melihat bagian lambung apakah ada masalah.
Perasaan cemas makin terasa. Ya Allah semoga tindakan ini berjalan lancar dan saya dapat segera sembuh.
Sambil menunggu panggilan utk endeskopi saya membuat tulisan ini. Terdengar suara keluarga pasien cuci darah yang bercerita bagaimana sulitnya untuk masuk keruang ini karena prosedur yg ketat. Sebenarnya prosedur ini dilakukan karena sedang merebaknya wabah COVID 19, prosedurnya dilakukan untuk mencegah terjangkitnya virus tsb. 
Disamping kiri saya ada seorang ibu muda dengan balita yang berumur 8 bln. Balita tersebut sering kejang2 jd disarankan oleh dokter utk EKG.
Semoga debay cepat sembuh ya😘.
Berada di Rs membuat saya bersyukur msh bisa melakukan aktivitas sehari2 dibandingkan pasien2 yg ada dikursi roda dan terkulai lemas ranjang RS.
Hari sudah menunjukkan jam 10.00, tiba-tiba seorang perawat memanggil nama saya, kemudian saya mengikuti beliau dan memasuki sebuah ruang Endeskopi, disana sudah ada 1 orang dokter dan 3 orang perawat. 1 orang perawat memperkenalkan semua orang yang ada didalam ruangan tersebut, kemudian beliau memberikan arah tentang prosedur tindakan endeskopi dengan ramah dan saya harus mengikuti semua instruksi yang diberikan dokter.
1 0rang perawat menyuruh saya tiduran dan memberikan saya obat bius berupa cairan yang disemprotkan kedalam mulut dan saya harus menelannya. Rasa obat tersebut sangat pahit dan setelah itu saya diharuskan tiduran dengan posisi miring kekiri, kemudian ada penganggah mulut dimasukan kedalam mulut saya. Setelah itu mulailah dimasukan selang yang ujungnya ada kamera kedalam mulut saya. Saat selang berada di tenggorokan saya disuruh menelan, terus menelan membuat saya mual, tenggorokan sakit dan rasanya ingin menyerah saja agar tidak jadi melakukan tindakan itu, akan tetapi saya ingat Allah dan pasrahkan semua kepadaNya ternyata itu membuat saya lebih tenang dan saya harus bernafas melalui hidung. Sampailah selang masuk kelambung, terasa lambung saya seperti ditiup dan mengembung. Terdengar percakapan antara dokter dan perawat tersebut tentang isi lambung saya tetapi tidak terlalu jelas. Akhirnya selang tersebut dikeluarkan dari mulut saya dan saya disuruh membuang air yg ada di tenggorokkan saya. Seorang perawat berkata kepada saya klo tindakan tersebut sudah selesai dan dia mengatakan klo saya termasuk pasien yang cukup tenang dan santai, padahal dalam hati saya sangat takut. Setelah itu saya haruskan puasa 1 jam lagi dan hasilnya menunggu selama 1 jam. 
Setelah 1 jam hasil selesai dan saya tidak paham tentang bahasa medis tersebut. Hari kamis saya diharuskan kontrol ulang untuk membahas tentang hasil endeskopi tersebut. 
Kemudian saya kembali kerumah dengan rasa mulut dan tengorokan yang masih agak sakit.
Kita sambung lagi besok ya....

0 Komentar