Perjuangan untuk sehat itu tidak mudah
Setelah sholat subuh saya dan suami berangkat dari rumah menuju Rumah Sakit M.Djamil yang berada di ibukota provinsi dengan jarak sekitar 2 jam, cuaca saat ini hujan yang membuat jalan cukup licin dan kami harus berhati-hati. Perjalanan yg kami lalui melewati bukit dan jurang. Kami harus berpacu dgn waktu demi bisa sampai di RS sakit secepat mungkin agar mendapat no. Antrian yg dekat, tapi dalam perjalanan itu tdk mudah karena kami harus berpacu dgn byk truk yg berjalanan beriringan, satu persatu dgn susah payah suami saya hrs menyalip truk tsb.
Sesampainya di RS ternyata saya medptkan no. Antrian 129, no. Yg cukup tinggi. Sebenarnya saya sdh bbrp kali ke RS ini tetapi hanya utk menjenguk teman dan keluarga yg sdg dirawat disini tetapi utk berobat ini adalah yg pertama kali jadi msh kebingungan dimn letak tempat2 pendaftaran dan polikliniknyab karena ini merupakan rumah sakit terbesar di Sumatera Barat seperti RSCM di Jakarta.
Setelah selesai pendaftaran saya menuju keruang tunggu poliklinik khusus. Saat memasuki poli hanya pasien yg diperbolehkan masuk, keluarga yg mengantar menunggu diluar. Ketika masuk saya di cek suhu tubuh dan diharuskan mencuci tangan dengan hand sanitazer yg telah RS sediakan. Semua petugas medis disini menggunakan masker termasuk saya sendiri, akan tetapi msk byk pasien yg tdk menggunakan masker. Setiap pasien yg msk di cek satu persatu suhu tubuh ternyata ada 1 pasien yg baru saja tiba suhu tubuhnya diatas standar dan tim medis segera memberikan masker, kejadian tersebut sempat membuat pasien lain termasuk saya cukup cemas.
Sebenarnya saya sdh sangat terbiasa menggunakan masker, baik bepergian kemana saja maupun kesekolah krn setelah saya menjalanin operasi kista tiriod satu tahun yg lalu, saya jd sensitif terhadap asap terutama asap rokok krn bisa menyebabkan saya sesak nafas.
Didalam ruang tunggu poli ini cukup dingin yg membuat telapak tangan saya alergi. Sdh bbrp bln ini saya mengalami itu ketika udara terasa dingin.
Saya ke Rumah Sakit ini (tipe A) setelah mendapat rujukan dari rumah sakit tipe C didaerah tempat tinggal saya. Dokter merujuk saya dikarenakan penyakit Asam lambung yang sdh cukup lama saya idap tdk sembuh juga, jadi dokter menyarankan saya utk di endeskopi. Utk pasien yang mempunyai Kartu Indonesia Sehat fasilitas endeskopi hanya ada 2 rumah sakit di Sumbar yaitu RS. M. Djamil dipadang dan RS M. Mochtar di bukittinggi. Saya lbh memilih RS M. Djamil krn jaraknya lbh dkt.
Sesampainya di RS ternyata saya medptkan no. Antrian 129, no. Yg cukup tinggi. Sebenarnya saya sdh bbrp kali ke RS ini tetapi hanya utk menjenguk teman dan keluarga yg sdg dirawat disini tetapi utk berobat ini adalah yg pertama kali jadi msh kebingungan dimn letak tempat2 pendaftaran dan polikliniknyab karena ini merupakan rumah sakit terbesar di Sumatera Barat seperti RSCM di Jakarta.
Setelah selesai pendaftaran saya menuju keruang tunggu poliklinik khusus. Saat memasuki poli hanya pasien yg diperbolehkan masuk, keluarga yg mengantar menunggu diluar. Ketika masuk saya di cek suhu tubuh dan diharuskan mencuci tangan dengan hand sanitazer yg telah RS sediakan. Semua petugas medis disini menggunakan masker termasuk saya sendiri, akan tetapi msk byk pasien yg tdk menggunakan masker. Setiap pasien yg msk di cek satu persatu suhu tubuh ternyata ada 1 pasien yg baru saja tiba suhu tubuhnya diatas standar dan tim medis segera memberikan masker, kejadian tersebut sempat membuat pasien lain termasuk saya cukup cemas.
Sebenarnya saya sdh sangat terbiasa menggunakan masker, baik bepergian kemana saja maupun kesekolah krn setelah saya menjalanin operasi kista tiriod satu tahun yg lalu, saya jd sensitif terhadap asap terutama asap rokok krn bisa menyebabkan saya sesak nafas.
Didalam ruang tunggu poli ini cukup dingin yg membuat telapak tangan saya alergi. Sdh bbrp bln ini saya mengalami itu ketika udara terasa dingin.
Saya ke Rumah Sakit ini (tipe A) setelah mendapat rujukan dari rumah sakit tipe C didaerah tempat tinggal saya. Dokter merujuk saya dikarenakan penyakit Asam lambung yang sdh cukup lama saya idap tdk sembuh juga, jadi dokter menyarankan saya utk di endeskopi. Utk pasien yang mempunyai Kartu Indonesia Sehat fasilitas endeskopi hanya ada 2 rumah sakit di Sumbar yaitu RS. M. Djamil dipadang dan RS M. Mochtar di bukittinggi. Saya lbh memilih RS M. Djamil krn jaraknya lbh dkt.
Jam menunjukkan 13.00 baru saya terpanggil untuk menemui dokter. Saya sempat terkejut melihat dokter yang masih sangat muda, saya berpikir mungkinkah ini dokter yg sdg PKL ?
Dokter bertanya tentang keluhan penyakit saya dengan ramah dan sopan. Dia meminta surat rujukan yg saya bawa dari RS Tentara, setelah membacanya kemudian beliau memberitahu bahwa saya akan di endeskopi, beliau juga menerangkan prosedur untuk endeskopi dengan jelas dan berusaha membuat saya tidak takut untuk melakukan tindakan endeskopi tersebut. Ternyata beliau adalah dokter spesial gastro
( dr.Saptino Miro, SpPD-KGEH,FINASIM ). Setelah itu saya harus mengantri di apotik untuk mendapat obat yang sudah di resepkan oleh dokter tersebut. Jam 15.30 baru saya mendapatkan obat di karenakan pasien yang cukup banyak. Akhirnya besok saya terjadwal untuk di endeskopi.
Sayapun menuju pulang kerumah dengan waktu tempuh 2 jam. Rasa cemas dan takut sekarang ini yang saya rasakan. Mudah-mudahan tindakan endeskopi yg akan saya lakukan berjalan lancar, aamiin...
2 Komentar
Mantap buk daris ardina..semoga saya juga bisa menulis dan menghasilkan karya..dan semoga pengobatannya lancar...amiinn
BalasHapusKerennn tek... Lanjutkan menjadi sebuah buku. .
BalasHapus